Nongkrong Keren Tanpa Miras

#NongkrongTanpaMiras

#antimiras

Memasuki era moderninasi dan globalisasi memberikan dampak yang positif sekaligus negatif bagi perkembangan moral generasi muda saat ini. seterusnya. Era modernisasi dan globalisasi ternyata justru memberi banyak dampak buruk terhadap perkembangan moral anak muda jaman sekarang. Keluarga memang seharusnya menjadi kontrol utama akan tetapi seberapa lama mampu mendampingi dan memonitor pergaulan sang anak di luar rumah. Sehingga selain dalam lindungan keluarga sekolah juga seharusnya menjadi tempat bagi pembentukan perkembangan jiwa generasi penerus bangsa ini.

Gerakan Anti Miras yang diprakarsai oleh  Fahira Idris mengadakan talkshow “Nongkrong Keren Tanpa Miras” di Restauran Steakology Jl. Tebet Barat Raya No. 38, Jaksel pada hari Jumat 21 Juni 2013 pukul 17.00 – 19.00. Selain dalam rangka penyerahan hadiah Lomba Blog tentang Anti Miras acara ini juga menampilkan talkshow. Budaya nongkrong di Cafe marak dipadati anak muda bahkan seperti Sevel Eleven (Sevel) disinyalir menjual miras dalam bentuk Mix Max yang dimasukkan dalam bolol minuman lain yang bukan miras. Slogan yang sering dibangun guna merusak moral anak bangsa Nggak keren kalo nggak mabok  boleh minum asal nggak mabok.

Talkshow yang dihadiri blogger, onliner dan media dibuka oleh Fahira Idris dengan mengatakan keprihatinannya terhadap pemerintah yang dinilai tidak serius membahas RUU Miras. Gerakan Anti Miras berharap penertiban melalui Peraturan Menteri Perdagangan mengenai penyelenggaraan waralaba yang masih menjual miras secara serius ditertibkan. Kementrian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan akan menertibkan retail yang sudah menyimpang dari ketentuan yang ada.

Fahira Idris mengungkapkan melalui talkshow ini, diharapkan dapat mengedukasi pengusaha resto, warung, minimarket, supermarket, hingga hotel untuk tidak menjual miras.  Generasi Anti Miras menghimbau kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan tidak menjual miras selama bulan Ramadhan dan segera membuat regulasi yang jelas tentang miras

Dengan menghadirkan narasumber @banghamdi4 @iqraks@malakmalakmal @CakEko1 wakil dari pemilik @Steakology. Satu hal menarik,  resto dan café yang digunakan untuk talkshow ini tidak menjajakan miras atau makanan dengan menggunakan wine “Kami mendukung Gerakan Penyelamatan Bangsa,” ujar Cak Eko pada saat pemaparannya.

Pada pembahasan : Alkohol & kejahatan oleh mas  @iqraks kepala pusat kajian kriminologi Fisip UI, ternyata hubungan antara alkohol dan kejahatan ini menjadi semakin memprihatinkan.  Adanya mata rantai kejahatan yang di mulai dari mabuk-mabukan karena miras, pelacuran, perkelahian dan kehilangan rasa kasih sayang diantara generasi muda yang berakibat munculnya rasa benci dan iri hati. Hal ini jelas dapat mengancam eksistensi bangsa kita, yang dalam jangka pendek dapat menggoyahkan stabilitas keamanan dan dalam jangka panjang dapat mengancam masa depan bangsa.

Narasumber lain, dipaparkan dosen Universitas Ibnu Khaldun, Akmal Syafril. “Dalam sudut pandang agama Islam, mabok atau tidak, miras tetap haram. Miras tidak dibatasi oleh umur sendiri tidak dibatasi oleh umur mau dibawah 21 tahun atau diatasnya yang namanya miras tetap haram. Dalam Al Quran sampai 3 kali diturunkan ayat tentang khamar ini sayat yang pertama adalah surat Al baqarah ayat 219.   Miras itu lebih besar keburukannya daripada manfaatnya. Dari anak-anak sampai orangtua, miras sama merampas akal kita.

Dukungan Dewan terhadap Gerakan Anti Miras

 

Ditengah tengah diskusi hadir Wakil Ketua MPR RI yang juga Wakil Ketua Umum DPP PPP Lukman Hakim Saifuddin @lukmansaifuddin,  saat ini baru ada dua fraksi di DPR yang  mendukung diterbitkannya UU Miras, yaitu fraksi PPP dan PKS. Pembahasan UU antimiras masih tergantung fraksi lain. Semoga saja di akhir tahun ini atau 2014 nanti akan digodok secara serius ujar mas Lukman yang mengaku isu miras punya banyak kepentingan, terutama kepentingan bisnis.

sumber

Komunitas gerakan anti miras bisa saja melakukan loby- loby kepada pemerintah, seperti Menkes agar mengeluarkan PP sambil menunggu UU disahkan.  Peran blogger, insan pers dan sosial media untuk menyadarkan masyarakat secara keseluruhan tentang bahaya miras. “Saya setuju miras adalah kejahatan Negara, bukan lagi individu. Ini tanggungjawab negara.  Tapi, jangan andalkan sepenuhnya pada negara. Masyarakat sipil juga bisa bergerak melakukan proses penyadaran,”ungkap mas Lukman menjawab salah satu penanya .

Pembicara terakhir  Dr. Muhammad Hamdi, Psi (Psikolog dari UI) yang  menceritakan pengalaman dari cara almarhum Abah Anom di Tasikmalaya yang banyak menyembuhkan remaja pecandu miras dan narkoba. “Abah Anom itu tahu membedakan, mana yang sudah sembuh dan mana yang belum. Jika ada santrinya yang mengaku sembuh, maka sesungguhnya ia belum sembuh. Perilaku orang yang suka ngedrugs adalah Speak Jungkis (suka bohong),” kisahnya.

Komunitas Gerakan Anti Miras  seharusnya melakukan pendekatan individu agar jangan sampai terkena pengaruh narkoba dan miras. Tak kalah penting, untuk memerangi miras, tergantung political will dari pemerintah. Sayangnya, banyak kepentingan politik di dalamnya karena tidak semua fraksi di DPR peduli dengan moral generasi muda Indonesia.

Kesembuhan sesorang dari ketergantungan pada miras, akan sangat bergantung :

  1. Jika seseorang telah mendapat hidayah
  2. Punya motivasi yang kuat
  3. Keinginan untuk sembuh

Detoksinasi hanya berhasil dari sisi fisiknya saja, tapi sugesti atau keinginan untuk kembali ngedrugs masih sangat kuat karena efek addicted. Pada kesimpulannya komunitas gerakan anti miras sepakat, bahwa miras adalah kejahatan negara. Buktinya, negara melakukan pembiaran terhadap kerusakan moral generasi muda disebabkan miras. Akibat miras kejahatan merajalela, pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, angka percaraian hingga kekerasan dalam rumah tangga meningkat tajam.

sumber: http://www.muslimah.web.id

2 Responses

Leave a Reply